Spiga

KOTA SEJUTA MOTOR?

Jogjakarta,...kota gudeg, kota pelajar, kota seribu angkringan.

Kalau mengenang masa lalu, kota ini begitu damai, tentram dan nyaman. Jauh dari bising dan segala keributannya,...itu mungkin 15 tahun yang lalu. Dan sekarang, ketika keluar dari rumah dan melalui jalan-jalan, terlihat betapa hiruk pikuknya orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. 

Memang jaman menuntut perubahan, tidak terkecuali di Jogja, kota kecil dengan segudang predikatnya dan saat ini menjadi sebuah kota tujuan pariwisata nomor satu di Indonesia (-menurut survei salah satu tv swasta nasional). Sayangnya perubahan yang terjadi kian melunturkan predikat-predikat yang dimiliki kota ini.

Jogja kian panas, kian bising dan lihatlah di jalan-jalan kota ini, kemsemrawutan menjadi pemandangan sehari-hari apalagi saat jam-jam sibuk pagi, siang, sore maupun malam hari. Tidak tertata dan tidak indah,...sangat disayangkan.

Jogja bukan Jakarta, bukan pula Surabaya,...apalagi Bali. Kini banyak kalangan yang mulai mempertanyakan tentang apa yang akan dijual oleh kota ini. Pariwisata, bidang pendidikannya atau...?
Jujur sebagai warga Jogja sendiri saya masih bingung untuk menjawabnya. Katakanlah pariwisatanya yang masih bisa "menjual", tapi tanpa didukung dengan pengelolaan dan tata kota yang baik akan sia-sia saja.

Salah satu yang mesti diperhatikan misalnya tentang pengaturan kendaraan-kendaraan bermotor. Beda dengan beberapa tahun yang lalu, kali ini jalan-jalan di Jogja laksana medan perang, jebakan maut bagi para pengguna jalan baik itu pejalan kaki maupun pengguna kendaraan bermotor lainnya, setiap pengguna jalan berisiko besar mengalami kecelakaan. Entah hal ini justru baik bagi kesehatan jantung atau tidak, sebab setiap melewati jalan-jalan kota ini kita dibuat dag dig dug bersenam jantung.

Penataan jalan maupun penertiban mutlak diperlukan, jelas ini kewenangan pemerintahan kota dan kabupaten, coba renungkan berapa persen pemakai kendaraan bermotor dengan "SIM tembak"? kita tidak pernah tahu mengenai layak tidaknya pemilik "SIM tembak"ini untuk mengendarai kendaraanya, siapa yang menerbitkan dan mengesahkannya mesti ikut bertanggung jawab bila terjadi kecelakaan. 

Tidak kalah pentingnya yaitu etika para pengguna jalan yang "saenake wae", sebagai kota pelajar berapa banyak yang melakukan pelanggaran lalu lintas? padahal mereka pelajar yang notabene melek ilmu...intelektual...sedih jika mengingatnya.

Jogjaku mulai panas,

Jogjaku mulai bising,

Jogjaku tidak nyaman lagi.