Spiga

Si Anak Hilang Yang Telah Ditemukan



       Lebih dari satu dasawarsa, sejak kami telah lulus dari almamater tercinta SMKN 3 YOGYA, dipertemukan kembali dengan suasana yang serba berbeda. Masing-masing dari kami membawa warna yang berbeda, benar-benar penuh warna. Segenap kangen hingga rasa penasaran tentang kabar dan keadaan saling tumpah ruah. Benar-benar pertemuan yang mengesankan, kalian pernah mengalaminya? jika pernah, tentu kalian cukup mengerti dengan "ke-sentimenalan"ku...cengeng memang, tapi biar saja :)

         Kalau mengenang kembali segala kisah di sekolah (kayak lagu ya..), banyak sekali kejadian-kejadian yang menjadi kesan begitu mendalam. Dan kesan-kesan itu terulang lagi menjadi bahan pembicaraan, seperti kemarin saja kejadian itu terjadi. Dari yang konyol, menyedihkan hingga kejadian yang membikin trauma. Aaaaargghhhh,...ada-ada saja kelakuan kami waktu itu..

        Tapi dari sekian lama waktu yang memisahkan kami, ada banyak perubahan yang terjadi. Tidak hanya fisik semata ( oke, kami memang bertambah tua,..jangan dibahas ^^), namun juga kepribadian yang juga berbeda. Maklum saja lebih dari sepuluh tahun, bayangkan saja berapa cerita yang telah kami jalani, tentu dengan masing-masing versi. Dan dari apa yang berbeda itu...ada cerita tentang si anak hilang, dan inilah cerita kali ini yang ingin kubagi dengan kalian....

       Kita rewind ke tigabelas tahun yang lalu (sreeeeettttt.....), ah itu dia...meskipun aku cowok tapi kuakui dia itu masuk dalam kategori "tampan",meskipun tidak begitu jauh denganku tentu saja :)...dia orangnya pendiam, klemah-klemeh kata orang jawa. Namun otaknya jangan ditanya...brilian bro..., menjadi tempat jujugan buat nyontek kalo ada PR ataupun kalo ada ulangan. Setiap berangkat ke sekolah, dia hanya membawa satu buku tulis yang dilipat dan dimasukkan dalam saku belakang, dan hanya itu saja. Masuk dalam peringkat 5 besar setiap tahunnya, bikin iri saja...damn!!! but oke juga buat jadi rival pada waktu itu. Akupun 5 besar dari 34 siswa, meskipun dari bawah...(don't lough !!!!). -and time jump.....

         Dan hari ini tigabelas tahun kemudian kami bertemu kembali, kabarnya baru pulang dari memburu ringgit di Malaysia. Memang pernah kudengar ia jadi TKI di Malaysia dari teman-teman yang lain, dan tak ada kabar setelah beberapa tahun ia bekerja disana. Sepuluh tahun bekerja dan belum pernah sekalipun pulang ke rumah, bayangkan bagaimana perasaan keluarganya...Dalam pertemuan kali ini aku ingin konfirmasi, langsung dari dirinya seorang kawan yang pernah menjadi rival.

Diapun bercerita kalau pernah ia pulang ke Jakarta, dan hanya sampai disana. Sebulan di Jakarta dan tak pulang ke Jogja, entah apa alasannya, tak ia beritahu dan akupun hanya menyimpan rasa ingin tahuku. Kemudian ia berangkat lagi ke Malaysia hingga lima tahun kemudian kembali pulang, maksudku benar-benar pulang. Banyak sekali ia bercerita, tentang keadaan dia disana, tentang pekerjaannya, teman-temannya hingga menu makanan setiap harinya. Sebenarnya tidak banyak yang menarik dari cerita-ceritanya ketika di Malaysia, namun yang menjadi perhatianku adalah dia menjadi orang yang benar-benar berbeda. Tidak banyak bicara (oke dia memang pendiam) trus ada banyak dari bagian rambutnya yang mulai hilang dan semakin kelihatan kinclongnya, yah mungkin karena pengaruh otak yang terlalu keras bekerja...tak tahulah.



         Yang terpenting dari itu semua adalah kepulangannya dengan selamat, mengingat banyak kabar yang aku dengar tentang TKI yang bekerja di Malaysia dan diperlakukan tidak semestinya. Hal ini begitu mengharukan, betapa tidak, pernah kami pikir mungkin dirinya sudah tewas di tangan majikannya (lho dia kan kerja di pabrik?), atau kena rajam polisi diraja? dan kini terjawab sudah, si anak hilang telah kembali pulang. Ingin sekali kukumpulkan seluruh teman-teman satu angkatan, dan kutagih cerita-cerita hidupnya sejak terakhir kali kami berpisah. Barangkali nanti ada banyak inspirasi, dan semoga aku ingat untuk menuliskannya disini. Well sampai nanti....

KOTA SEJUTA MOTOR?

Jogjakarta,...kota gudeg, kota pelajar, kota seribu angkringan.

Kalau mengenang masa lalu, kota ini begitu damai, tentram dan nyaman. Jauh dari bising dan segala keributannya,...itu mungkin 15 tahun yang lalu. Dan sekarang, ketika keluar dari rumah dan melalui jalan-jalan, terlihat betapa hiruk pikuknya orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. 

Memang jaman menuntut perubahan, tidak terkecuali di Jogja, kota kecil dengan segudang predikatnya dan saat ini menjadi sebuah kota tujuan pariwisata nomor satu di Indonesia (-menurut survei salah satu tv swasta nasional). Sayangnya perubahan yang terjadi kian melunturkan predikat-predikat yang dimiliki kota ini.

Jogja kian panas, kian bising dan lihatlah di jalan-jalan kota ini, kemsemrawutan menjadi pemandangan sehari-hari apalagi saat jam-jam sibuk pagi, siang, sore maupun malam hari. Tidak tertata dan tidak indah,...sangat disayangkan.

Jogja bukan Jakarta, bukan pula Surabaya,...apalagi Bali. Kini banyak kalangan yang mulai mempertanyakan tentang apa yang akan dijual oleh kota ini. Pariwisata, bidang pendidikannya atau...?
Jujur sebagai warga Jogja sendiri saya masih bingung untuk menjawabnya. Katakanlah pariwisatanya yang masih bisa "menjual", tapi tanpa didukung dengan pengelolaan dan tata kota yang baik akan sia-sia saja.

Salah satu yang mesti diperhatikan misalnya tentang pengaturan kendaraan-kendaraan bermotor. Beda dengan beberapa tahun yang lalu, kali ini jalan-jalan di Jogja laksana medan perang, jebakan maut bagi para pengguna jalan baik itu pejalan kaki maupun pengguna kendaraan bermotor lainnya, setiap pengguna jalan berisiko besar mengalami kecelakaan. Entah hal ini justru baik bagi kesehatan jantung atau tidak, sebab setiap melewati jalan-jalan kota ini kita dibuat dag dig dug bersenam jantung.

Penataan jalan maupun penertiban mutlak diperlukan, jelas ini kewenangan pemerintahan kota dan kabupaten, coba renungkan berapa persen pemakai kendaraan bermotor dengan "SIM tembak"? kita tidak pernah tahu mengenai layak tidaknya pemilik "SIM tembak"ini untuk mengendarai kendaraanya, siapa yang menerbitkan dan mengesahkannya mesti ikut bertanggung jawab bila terjadi kecelakaan. 

Tidak kalah pentingnya yaitu etika para pengguna jalan yang "saenake wae", sebagai kota pelajar berapa banyak yang melakukan pelanggaran lalu lintas? padahal mereka pelajar yang notabene melek ilmu...intelektual...sedih jika mengingatnya.

Jogjaku mulai panas,

Jogjaku mulai bising,

Jogjaku tidak nyaman lagi.